Feeds:
Tulisan
Komentar

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

SMA : Wachid Hasyim 2 Taman

Mata Pelajaran : Bahasa Inggris

Kelas/Semester : X / Genap

Alokasi waktu : 2 x 45 menit

————————————————————————————————————————-

  1. STANDAR KOMPETENSI

7

Memahami makna dalam percakapan transaksional dan interpersonal dalam konteks kehidupan sehari-hari.

9

Mengungkapkan makna dalam percakapan transaksional dan interpersonal dalam konteks kehidupan sehari-hari.
  1. KOMPETENSI DASAR

  1. 7.1

    7.2

    Merespon makna dalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi) resmi dan tak resmi secara akurat, lancar dan berterima yang menggunakan ragam bahasa lisan sederhana dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari dan melibatkan tindak tutur: berterima kasih, memuji, dan mengucapkan selamat.

    Merespon makna dalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi) resmi dan tak resmi secara akurat, lancar dan berterima yang menggunakan ragam bahasa lisan sederhana dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari dan melibatkan tindak tutur: menyatakan rasa terkejut, menyatakan rasa tak percaya, serta menerima undangan, tawaran, dan ajakan.

    9.1

    9.2

    Mengungkapkan makna dalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi) resmi dan tak resmi secara akurat, lancar dan berterima dengan menggunakan ragam bahasa lisan sederhana dalam konteks kehidupan sehari-hari dan melibatkan tindak tutur: berterima kasih, memuji, dan mengucapkan selamat.

    Mengungkapkan makna dalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi) resmi dan tak resmi secara akurat, lancar dan berterima dengan menggunakan ragam bahasa lisan sederhana dalam konteks kehidupan sehari-hari dan melibatkan tindak tutur: menyatakan rasa terkejut, menyatakan rasa tak percaya, serta menerima undangan, tawaran, dan ajakan.

    INDIKATOR

  • Mengidentifikasi makna tindak tutur berterima kasih, memuji, mengucapkan selamat, menyatakan rasa terkejut, menyatakan rasa tak percaya, menyetujui undangan, tawaran, dan ajakan.

  • Merespon tindak tutur berterima kasih, memuji, mengucapkan selamat, menyatakan rasa terkejut, menyatakan rasa tak percaya, menyetujui undangan, tawaran, dan ajakan.

  • Menggunakan tindak tutur berterima kasih, memuji, mengucapkan selamat, menyatakan rasa terkejut, menyatakan rasa tak percaya, menyetujui undangan, tawaran, dan ajakan.

  1. TUJUAN PEMBELAJARAN

  • Mengidentifikasi makna tindak tutur berterima kasih, memuji, mengucapkan selamat, menyatakan rasa terkejut, menyatakan rasa tak percaya, menyetujui undangan, tawaran, dan ajakan.

  • Merespon tindak tutur berterima kasih, memuji, mengucapkan selamat, menyatakan rasa terkejut, menyatakan rasa tak percaya, menyetujui undangan, tawaran, dan ajakan.

  • Menggunakan tindak tutur berterima kasih, memuji, mengucapkan selamat, menyatakan rasa terkejut, menyatakan rasa tak percaya, menyetujui undangan, tawaran, dan ajakan.

  1. MATERI PEMBELAJARAN

Expression of Thank & Their Responses

Expression of thank.

      1. For gifts / service recieved.

          • Thanks you very much

          • Thanks alot

          • I am very greatful for …

          • Etc

      1. For favour / help

          • Thanks a lot for…

          • I really appreciate your…

          • It was very kind of you to…

          • Etc

      1. Resposes

          • You’re welcome

          • That’s all right

          • Don’t mention it

          • It was my pleasure

          • Etc

Expression of Giving Admiration

Expressin of admiration

          • That’s great

          • You’re splendid

          • That’s exellent

          • Perfect marvelous

          • Are you kidding

          • What a lovely girl…

          • How beautiful you are

Exppression of Giving Congratulation

          • I would like to congratulate….

          • Congratulation on….

          • Congratulations!

Responses :

          • Thank you very much.

Expression of Surprise

          • Really!

          • W hat a surprise!

          • You must be joking.

Expression of Disbelieve

          • Oh. No, I don’t believe it.

          • You may not believe it but ….

          • I find it hard to believe.

          • I can’t believe it.

  1. METODE PEMBELAJARAN

  1. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

Pertemuan : 1

Langkah

Kegiatan

Waktu

Guru

Siswa

Kegiatan pendahuluan

  • Guru mengucapkan salam, mengabsen siswa, mengontrol kelengkapan belajar Bahasa Inggris siswa.

  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dibahas.

  • Guru memberi pert

  • Siswa memasuki instruksi guru, siswa menunjukkan kelengkapan belajar.

  • Siswa berkonsentrasi memasuki instruksi guru.

10 menit

Kegiatan

Inti

  • Guru menanyakan beberapa kosa kata sulit dalam dialog.

  • Guru memutar kaset listening dialog berbentuk berterima kasih.

  • Guru menyuruh siswa menjawab pertanyaan berdasarkan dialog berbentuk ungkapan berterima kasih.
  • Siswa mencari makna kosa kata sulit dalam kamus.

  • Siswa melengkapi dialog dengan kata/phrase yang benar berdasarkan teks lisan (dari kaset Listening)

  • Siswa menjawab pertanyaan bersdasarkan ungkapan berterima kasih.

65 menit

Kegiatan

Akhir

  • Guru memberi memberikan pertanyaan kepada siswa sebagai umpan balik mengenai materi dialog berbentuk ungkapan berterima kasih.

  • Guru menanyakan beberapa kosa kata sulit dalam dialog.
  • Siswa menjawab pertanyaan guru secara lisan.

  • Siswa mencari makna kosa kata sulit dalam kamus.

15 menit

Pertemuan : 2

Langkah

Kegiatan Guru

Kegiatan Siswa

Waktu

Kegiatan pendahuluan

  • Guru mengucapkan salam, mengabsen siswa, mengontrol kelengkapan belajar Bahasa Inggris siswa.

  • Guru menunjukkan gambar yang relevan dengan topik yang akan dibahas.

  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dibahas.

  • Siswa memasuki instruksi guru, siswa menunjukkan kelengkapan belajar.

  • Siswa berkonsentrasi memasuki instruksi guru.

10 menit

Kegiatan

Inti

  • Guru menanyakan beberapa kosa kata sulit dalam dialog.

  • Guru memutar kaset listening dialog berbentuk berterima kasih.

  • Guru menyuruh siswa menjawab pertanyaan berdasarkan dialog berbentuk ungkapan berterima kasih.
  • Siswa mencari makna kosa kata sulit dalam kamus.

  • Siswa melengkapi dialog dengan kata/phrase yang benar berdasarkan teks lisan (dari kaset Listening)

  • Siswa menjawab pertanyaan bersdasarkan ungkapan berterima kasih.

65 menit

Kegiatan

Akhir

  • Guru memberi memberikan pertanyaan kepada siswa sebagai umpan balik mengenai materi dialog berbentuk ungkapan berterima kasih.

  • Guru menanyakan beberapa kosa kata sulit dalam dialog.
  • Siswa menjawab pertanyaan guru secara lisan.

  • Siswa mencari makna kosa kata sulit dalam kamus.

15 menit

Pertemuan : 3

Langkah

Kegiatan Guru

Kegiatan Siswa

Waktu

Kegiatan pendahuluan

  • Guru mengucapkan salam, mengabsen siswa, mengontrol kelengkapan belajar Bahasa Inggris siswa.

  • Guru menunjukkan gambar yang relevan dengan topik yang akan dibahas.

  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dibahas.

  • Siswa memasuki instruksi guru, siswa menunjukkan kelengkapan belajar.

  • Siswa berkonsentrasi memasuki instruksi guru.

10 menit

Kegiatan

Inti

  • Guru menanyakan beberapa kosa kata sulit dalam dialog.

  • Guru memutar kaset listening dialog berbentuk berterima kasih.

  • Guru menyuruh siswa menjawab pertanyaan berdasarkan dialog berbentuk ungkapan berterima kasih.
  • Siswa mencari makna kosa kata sulit dalam kamus.

  • Siswa melengkapi dialog dengan kata/phrase yang benar berdasarkan teks lisan (dari kaset Listening)

  • Siswa menjawab pertanyaan bersdasarkan ungkapan berterima kasih.

65 menit

Kegiatan

Akhir

  • Guru memberi memberikan pertanyaan kepada siswa sebagai umpan balik mengenai materi dialog berbentuk ungkapan berterima kasih.

  • Guru menanyakan beberapa kosa kata sulit dalam dialog.
  • Siswa menjawab pertanyaan guru secara lisan.

  • Siswa mencari makna kosa kata sulit dalam kamus.

15 menit

Pertemuan : 4

Langkah

Kegiatan Guru

Kegiatan Siswa

Waktu

Kegiatan pendahuluan

  • Guru mengucapkan salam, mengabsen siswa, mengontrol kelengkapan belajar Bahasa Inggris siswa.

  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dibahas.

  • Siswa memasuki instruksi guru, siswa menunjukkan kelengkapan belajar.

  • Siswa berkonsentrasi memasuki instruksi guru.

10 menit

Kegiatan

Inti

  • Guru menanyakan beberapa kosa kata sulit dalam dialog.

  • Guru memutar kaset listening dialog berbentuk berterima kasih.

  • Guru menyuruh siswa menjawab pertanyaan berdasarkan dialog berbentuk ungkapan berterima kasih.
  • Siswa mencari makna kosa kata sulit dalam kamus.

  • Siswa melengkapi dialog dengan kata/phrase yang benar berdasarkan teks lisan (dari kaset Listening)

  • Siswa menjawab pertanyaan bersdasarkan ungkapan berterima kasih.

65 menit

Kegiatan

Akhir

  • Guru memberikan pertanyaan kepada siswa sebagai umpan balik mengenai materi dialog berbentuk ungkapan berterima kasih.

  • Guru menanyakan beberapa kosa kata sulit dalam dialog.
  • Siswa menjawab pertanyaan guru secara lisan.

  • Siswa mencari makna kosa kata sulit dalam kamus.

15 menit

  1. SUMBER BELAJAR

No

Judul Buku

Karangan

Penerbit

1

Access to English Competence, English for Senior High School

Abdul Ghoffal, S.Pd

Penerbit Sansekerta Inti Media.

2

English for a better life

- Marta Yulianai

- Gandes Cukat Permaty

Pakar Raya.

3

Look Ahead An English Course

- Th. M. Sudarwati

- Eudia Grace

Erlangga

  1. PENILAIAN

Mengetahui Taman, 21 Juli 2008

Kepala Sekolah Guru Bidang Studi

sosiolinguistic article

SOCIOLINGUISTICS

This introduction to some exciting aspects in the field of social linguistics is designed to encourage you to read further. There are many fascinating and odd phenomena that occur in the social aspects of language.

WHAT IS SOCIOLINGUISTICS?

Sociolinguistics is a term including the aspects of linguistics applied toward the connections between language and society, and the way we use it in different social situations. It ranges from the study of the wide variety of dialects across a given region down to the analysis between the way men and women speak to one another. Sociolinguistics often shows us the humorous realities of human speech and how a dialect of a given language can often describe the age, sex, and social class of the speaker; it codes the social function of a language.

Social Factors

INTRODUCTION

When two people speak with one another, there is always more going on than just conveying a message. The language used by the participants is always influenced by a number of social factors which define the relationship between the participants. Consider, for example, a professor making a simple request of a student to close a classroom door to shut off the noise from the corridor. There are a number of ways this request can be made: a. Politely, in a moderate tone “Could you please close the door?” b. In a confused manner while shaking his/her head “Why aren’t you shutting the door?” c. Shouting and pointing, “SHUT THE DOOR!”

The most appropriate utterance for the situation would be a. The most inappropriate would be c. This statement humiliates the student, and provides no effort by the professor to respect him/her. Utterance b is awkward because it implies that the teacher automatically assumes that the student should know better than to leave the door open when there is noise in the hallway. The inappropriateness is a social decision tied to the social factors which shape the relationship between speaker ( the professor), and the listener (the student).

When choosing an appropriate utterance for the situation, there are factors that you must consider in order to effectively convey the message to the other participant.

1. Participants- how well do they know each other?

2. Social setting- formal or informal

3. Who is talking- status relationship/social roles ( student vs. professor)

4. Aim or purpose of conversation

5. Topic

Do you notice that there is a difference in the way you speak to your friends and the way you speak to your relatives, teachers, or others of professional status?

When telling your friend that you like his/her shirt, you say: “Hey, cool shirt, I like that!”

When telling the President of the company your parents work for that you like his/her shirt, you say: “You look very nice today, I really like that shirt.”

This is called choosing your variety or code. This can also be seen on a larger scale, diglossia, where multilingual nations include a variety of accents, language styles, dialects and languages. Each of these factors is a reflection of the region and socio-economics background from which you come from. In monolingual societies, the region and socio-economic factors are determined by dialect and language style.

It is not uncommon in our nation to see that languages other than English are spoken inside the home with friends and family. However when these bilingual or even trilingual families interact socially outside of their home, they will communicate in English. Even church services may use a variation of the language, one that you would only hear in side the church or in school. An example of the difference in the use of a language can be seen in the following example from Janet Holmes, “An Introduction to Sociolinguistics,” of the two main languages used in Paraguay; Spanish and Guarani:

 Diglossia

Diglossia: In a bilingual community, in which two languages or dialects are used differently according to different social situations. Janet Holmes defines diglossia as having three crucial features:

1. In the same language, used in the same community, there are two distinct varieties. One is regarded as high (H) and the other low (L).

2. Each is used for distinct functions.

3. No one uses the high (H) in everyday conversation. In the following example it is easy to tell which variety you will use given the social situations:

• Telling a joke

• Interviewing for a job

• Giving a speech for a charity event

• Giving a speech for a friend for his/her birthday

• Church

• Cafeteria

Politeness and Gender Are Women More Polite Than Men?

Politeness is defined by the concern for the feelings of others.

From Nancy Bonvillain’s “Language, Culture, and Communication” she notes that, “women typically use more polite speech than do men, characterized by a high frequency of honorific (showing respect for the person to whom you are talking to, formal stylistic markers), and softening devices such as hedges and questions.”

 Sociolinguists try to explain why there is a greater frequency of the use of polite speech from women than from men. In our society it is socially acceptable for a man to be forward and direct his assertiveness to control the actions of others. However, society has devalued these speech patterns when it is utilized by women. From historical recurrence, it has appeared that women have had a secondary role in society relative to that of the male. Therefore, it has been (historically) expected from a women to “act like a lady” and “respect those around you.” It reflects the role of the inferior status being expected to respect the superior. In Frank and Anshen’s “Language and the Sexes”, they note that boys, “are permitted, even encouraged, to talk rough, cultivate a deep “masculine” voice and, if they violate the norms of correct usage or of polite speech, well “boys will be boys,” although, peculiarly, it is much less common that “girls will be girls” Fortunately, these roles are becoming more of a stereotype and less of a reality. However, the trend of expected polite speech from the female continues to remain. This is a prime example of how society plays an important part on the social function of the language.

Honorifics: linguistic markers that signal respect to the person you are speaking to: “Hey ma, fix my jacket” Mom, could you please do me a favor, and fix my jacket?” In Japanese, according to Masa-aki Yamanashi, the appropriate choice of honorifics is based on complex rules evaluating addressee, referent, and entities or activities associated with either. Example taken from Nancy Bonvillain’s “Language, Culture, and Communication.”

1. Without Honorific. yamada ga musuko to syokuzi o tanosinda yamada son dinner enjoyed “Yamada enjoyed dinner with his son.”

2. With Honorific. yamada-san ga musuko-san to o-syokuzi o tanosim-are-ta yamada-HON son-HON HON-dinner enjoyed-HON “Yamada enjoyed dinner with his son.”

Hedges: “loosely speaking”, having a sense of “fuzziness” they take away assertiveness in your statements, soften the impact of your words or phrases such as ” I was sort-of-wondering,” “maybe if….,” “I think that….”

“HANK is SO MEAN!” vs. ” I sort-of-think that Hank is a bit of a mean person.”

More Gender Speech Issues Who Talks More, Men or Women?

A common cultural stereotype describes women as being talkative, always speaking and expressing their feelings. Well, this is probably true, however, do women do it more than men? No! In fact an experiment designed to measure the amount of speech produced suggested that men are more prone to use up more talking time than women. An experiment b y Marjorie Swacker entailed using three pictures by a fifteenth century Flemish artist, Albrecht Durer which were presented to men and women separately. They were told to take as much time as they wanted to describe the pictures. The average time for males: 13.0 minutes, and the average time for women 3.17 minutes.

Why is this?

Sociolinguists try to make the connection between our society and our language in a way that suggests that women talk less because it has not always been as culturally acceptable as it has been for men. Men have tended to take on a more dominant role not only in the household, but in the business world. This ever-changing concept is becoming le ss applicable in our society, however, the trend is still prominent in some societies across the world. It is more acceptable for a man to be talkative, carry on long conversation, or a give a long wordy speech, however it is less acceptable for a women to do so. It has been more of a historical trend for men have more rights to talk. However , it is common for men to be more silent in situations that require them to express emotion. Since childhood, they have been told to “keep their cool” and “remain calm, be a man.

” Do Men and Women Really Speak Differently?

Can you tell who, most likely, is speaking? “Wow what a beautiful home!” “That outfit looks lovely on you!” “Nice coat.” “Where can I find a pair of shoes like that, I like them.” “This is a super cool shirt, I love it.” “This shirt is cool.”

Sometimes comment like these may be extremely stereotypical, however it is easy for any one to identify who the speaker is. In English we laugh at these utterances, however in some languages there are gender-exclusive speech patterns for men and women respectively. It is not uncommon to see these speech patterns cross-culturally to linguistically the gender of the speaker. Edward Sapir documented such occurrences in Yana, an American Indian language, where there are distinct words that are used for men and women respectively.

Example taken from Janet Holmes, “An Introduction to Sociolinguistics” Women ba yaa Men ba-na yaa-na “dear” “person” Sapir found that the male form of speech is used by men when talking to other men. Female speech is used by women talking to other women or men, or by men talking to women. Therefore, there is an exclusive speech pattern for men speaking to men. There are also some examples of this in Japanese. Example taken from Nancy Bonvillain’s, “Language, Culture, and Communication” Women ohiya onaka oisii taberu Men mizu hara umai kuu “water” “stomach” “delicious” “eat”

PIDGINS AND CREOLES INTRODUCTION

Can you guess what language this is?

These lines are taken from a famous comic strip in Papua New Guinea:

“Sapos yu kaikai planti pinat, bai yu kamap strong olsem phantom.”

 ”Fantom, yu pren tru bilong mi. Inap yu ken helpim mi nau?”

“Fantom, em i go we?”

Translation: ‘If you eat plenty of peanuts, you will come up strong like the phantom.’ ‘Phantom, you are a true friend of mine. Are you able to help me now?’

1Where did he go?’ A simplified language derived from two or more languages is called a pidgin. It is a contact language developed and used by people who do not share a common language in a given geographical area. It is used in a limited way and the structure is very simplistic. Since they serve a single simplistic purpose, they usually die out. However, if the pidgin is used long enough, it begins to evolve into a more rich language with a more complex structure and richer vocabulary. Once the pidgin has evolved and has acquired native speakers ( the children learn the pidgin as their first language), it is then called a Creole. An example of this is the Creole above from Papua New Guinea, Tok Pisin, which has become a National language.

Reasons for the development of Pidgins

In the nineteenth century, when slaves from Africa were brought over to North America to work on the plantations, they were separated from the people of their community and mixed with people of various other communities, therefore they were unable to communicate with each other. The strategy behind this was so they couldn’t come up with a plot to escape back to their land. Therefore, in order to finally communicate with their peers on the plantations, and with their bosses, they needed to form a language in which they could communicate. Pidgins also arose because of colonization. Prominent languages such as French, Spanish, Portuguese, English, and Dutch were the languages of the coloni zers. They traveled, and set up ports in coastal towns where shipping and trading routes were accessible.

There is always a dominant language which contributes most of the vocabulary of the pidgin, this is called the superstrate language. The superstrate language from the Papua New Guinea Creole example above is English. The other minority languages that contribute to the pidgin are called the substrate languages.

In the United States, there is a very well known Creole, Louisiana Creole, which is derived from French and African Languages. You most likely have heard of “Cajun” which is a developed dialect of this Creole.

Can you guess what major language (the superstrate) contributed to the vocabulary in each of these Creoles? This table is taken from Janet Holmes, ” An Introduction to Sociolinguistics”:

a. mo pe aste sa banan

b. de bin alde luk dat big tri

c. a waka go a wosu

d. olmaan i kas-im chek

e. li pote sa bay mo

f. ja fruher wir bleiben

g. dis smol swain i bin go fo maket I am buying the banana they always looked for a big tree he walked home the old man is cashing a check he brought that for me Yes at first we remained this little pig went to market

Click HERE for answers!

ANSWERS: a. French based Seychelles Creole b. English based Roper River Creole c. English based Saran d. English based Cape York Creole e. French based Guyanais f. German based Papua New Guinea Pidgin German g. English based Cameroon Pidgin

POLITENESS

In everyday conversation, there are ways to go about getting the things we want. When we are with a group of friends, we can say to them, “Go get me that plate!”, or “Shut-up!” However, when we are surrounded by a group of adults at a formal function, in which our parents are attending, we must say, “Could you please pass me that plate, if you don’t mind?” and “I’m sorry, I don’t mean to interrupt, but I am not able to hear the speaker in the front of the room.” I different social situations, we are obligated to adjust our use of words to fit the occasion. It would seem socially unacceptable if the phrases above were reversed.

According to Brown and Levinson, politeness strategies are developed in order to save the hearers’ “face.” Face refers to the respect that an individual has for him or herself, and maintaining that “self-esteem” in public or in private situations. Usually you try to avoid embarrassing the other person, or making them feel uncomfortable. Face Threatening Acts (FTA’s) are acts that infringe on the hearers’ need to maintain his/her self esteem, and be respected. Politeness strategies are developed for the main purpose of dealing with these FTA’s. What would you do if you saw a cup of pens on your teacher’s desk, and you wanted to use one, would you

a. say, “Ooh, I want to use one of those!”

b. say, “So, is it O.K. if I use one of those pens?”

c. say, “I’m sorry to bother you but, I just wanted to ask you if I could use one of those pens?”

d. Indirectly say, “Hmm, I sure could use a blue pen right now.”

There are four types of politeness strategies, described by Brown and Levinson, that sum up human “politeness” behavior: Bald On Record, Negative Politeness, Positive Politeness, and Off-Record-indirect strategy.

If you answered A, you used what is called the Bald On-Record strategy which provides no effort to minimize threats to your teachers’ “face.”

If you answered B, you used the Positive Politeness strategy. In this situation you recognize that your teacher has a desire to be respected. It also confirms that the relationship is friendly and expresses group reciprocity.

If you answered C, you used the Negative Politeness strategy which similar to Positive Politeness in that you recognize that they want to be respected however, you also assume that you are in some way imposing on them. Some other examples would be to say, “I don’t want to bother you but…” or “I was wondering if …”

 If you answered D, you used Off-Record indirect strategies. The main purpose is to take some of the pressure off of you. You are trying not to directly impose by asking for a pen. Instead you would rather it be offered to you once the teacher realizes you need one, and you are looking to find one. A great example of this strategy is somethin g that almost everyone has done or will do when you have, on purpose, decided not to return someone’s phone call, therefore you say, ” I tried to call a hundred times, but there was never any answer.”

This page was last updated on Tuesday, February 25, 1997

surabaya oh surabaya

kota pahlawan, kota bonex, kota makanan, tempat shopping terbersar se asiatenggara de el el…
membuat ku banyak terlena dan lelah…
bayangkan saja, dulu…saat masih di mojokerto, bangun pazti jam 3 pagi. kemudian segera ambil wudhlu dan bersiap ke masjid buat ikut shubuhan.
sepulang shubuhan, ngaji tafsir hingga senyum pagi menampakkan pesonanya.
sebelum berangkat sekolah, tak lupa sholat dhuha, begitupun saat sehabis maghrib, langsung ngaji Yaa Sin dan wiridan sampai adzan isya’ berkumandang.
tapi kini….di surabaya.
bangun jam 5 <matahari udah mulai meninggi, entah diterima atau enggak sholat shubuh dan lantunan ayat2_Nya yang hanya secarik q ini….<masya Allah>

masih capek n ngantuk berat bikin aq ndelosor agy di tempat tidur.

kalo enggalk malez ya belajar atau bersih2.

ditempat kerja…yang penuh dengan intrik dan politikisasi, membuat q mencoba bertahan dengan sekuat tenaga <berbekal dungo slamet dan pengasihan dari embah,,q hadapi hari2 dikantor> hehehehehehehe :)

abiz,, mw gimana lagi…terlalu jujur=salah, macak lugu=yo tambah salah, macak pinter=banyak yang mencela….REPOT!!!!!

pulang kerja, pazti capek berat <gemana gak capek,, lha wong tiap hari aku kayak setrika, mondar mandir ambil tagihan, ambil barang, ngelayani orang customer, terima tamu, terima telfon, de el el…>

bayaran piro gelem kerjo model ngene iki?????

setelah itu jika masih ada sisa energi, aq bersemangat untuk kuliah. tapi kalo enggak,.,,.. iah…kayak gini ni. BOLOS wae cah…hehehehe

booknya malem2,kadang begadang… tapi gak jelaz begadange.

kalo gak gituw yo shopping atau nongkrong.

<mbok yow timbangane ngannggur tah online gak jelaz, yo mending aq wiridan tah opo ngunu low,. ngunu low yo gak e….<mboh aq iki kuq poleh dadi koyo ngene….astaghirullah>

apakah aku sudah terkena hawa panas surabaya????

mungkin!!!!

“Ingin segera Q tinggalkan kota ini”

hiks…hiks….hiks…

Indahnya Longdistance…

Mei 14,2009

Assalammualaikum…..

Aku bener2 nggak tau ada apa dibalik semua ini,

Kenapa Qta dipertemukan kmbali?

Kenapa kamu hadir nawarin cinta & sayang iank bgitu besar ke aq lagi?

Kenapa rasa sayang kamu ke aq kuq nggak ilang bgitu aja, padahal khan dah cukup lama aku ngusir kamu dari hidupku…..

Dan anehnya,, kenapa juga aku bgitu welcome BGT,, HERAN DEHHHH…..

Senenk sekaligus was2, Aq takut ma diriku sendiri, dan ku juga gak mau kamu bakal sakit gara2 aku lagie.

Truz gimana duonk????????

Wz embohlah….

Iank jelaz kini aku bahagia dengan kehadiranmu LAGI….

Makasih iah,,

N maaf kalo siapa tau, ada sikap ku iank gak ku sengaja bikin kamu sakit.

MAAF

July 16,2009

Hancur….hancur…..hancur hatiku,, hancur hancur hatiku,,

Hancur….hancur….hancur…hatiku….

Hatiku hancur…..

Katanya pulang,,eh….stelah diundur, mash juga diundur lagy!!!

Ampe kapan????

Kayaknya nieh bakal berlangsung lama dech….

Mesakke poll aq nie,,

Nunggu lagie……

Au!!!!

Nunggu lagie….

Medhak laigie……

Au!!!!

Medhak lagie…..

Ya Allah….jangan biarkan hambamu ini lagi2 cinta pada bayangan ya Allah….

Aku cinta dia ya Allah….

Berikanlah kami jalan,,berikanlah kesempatan ya Allah….

Tapi….jika Kau berkehendak lain,,apa daya??????

July 28,2009

Cing cakeling manuk kicang dikeceng…

Cing cangkeling na na na na na na na na…..

Don’t know!

Lama2 q ngrasa gak nyaman dengan smua ni,,

Longdistance…

Yup! Dipandang dari sudut manapun, tetep gak enak.

Hhmmm…

So sad,,

Hampir gak ada senengnya blaz!

Bayangin ajah, q cm bisa denger suaranya duank, gak tau dia lagi apa, lagi sakitkah, lagi seneng kah, lagi banyak duit kah, kah kah kah ????

Hehehehe

Pengen gtu dia ada disamping aq,, truz bersandar di dadanya yang bidang.

Syukur2 klo dapet bonus pelukan hangat dari dia,,

Ouwh….ouwh….ouwh…

(mulai deh hayalan tingkat tingginya…hihi)

Tapi…

Kenyataannya?

”Aq tetap sendiri”

Sepi dan sendiri aq benci

Pecahkan saja gelasnya biar ramai,

Biar mengadu sampai gaduh

Lho…lho…lho…kuq malah puisi Rangga???@#$%^&)

Salahnya aq juga,, knapa pas udah jauh kayak ginie, aku baru ngrasa cinta,,

Napa gak dari dulu sech??!!!!

<geton tibo ing mburi = penyesalan datang belakangan>

Dulu dia ngejar2 pe’ kebangeten cintanya ke aq, Ehhh..aqnya malah asyik bercinta dan maen hati ma BlackBerry,,yang pada akhirnya dia ninggalin aq lantaran gak bisa jauh dan kemudian tertarik ma cewek laen disono…hiks!!!

<sebenernya gak bisa jauh atau emang kesengsem ma tuh cewek iah??? Kayaknya the second choice deh iang bener. Au ah…yang jelas dia kini udah lupa ma aq n agy asyik menikmati mainan barunya>

Yasudd…ahLah…

Kini, aq lagi2 terlibat longdistance! <alias jatuh pada lubang yang sama>

AAAPPPEEESSSSSSSS……..

<sbnernya aq yang guwoblok apa letoy apa O’on ce???>

Hiks3x

03/08/09

Malem minggu kmaren,, pas nungguin Doi online,, eh….

Ternyata box YM q nyala ”BlackBerry”

Berikut ini liputan selengkapnya:

01/08/09

BlackBerry: ojok mendelik ae

mboten_supe: biarin

BlackBerry: hahaha… bahasamu kok dadi kyk mbah surip ngunu

mboten_supe: biarin biarin

BlackBerry: =))

mboten_supe: heh!!!!

mboten_supe: shut up…

mboten_supe: mulutmu dirubung laler kpok lho yow

BlackBerry: ah…. salah uwong aku iki kyk’e…

mboten_supe: gak sah cari gara2 m quwh iah,, ntar guwe kepret baru tw rasa…!!

BlackBerry: sory ya mbaak..

mboten_supe: cuma bilang sorry/???

mboten_supe: kyak slank ajah

BlackBerry: ngomong telek

mboten_supe: iiihhhhhh….jorok ah

BlackBerry: :-$

mboten_supe: huh…sock imut <item mutlak>

mboten_supe: wkwkwkwwk

BlackBerry: ojok nggolek perkoro]

mboten_supe: sp coba iank mulai dulun?:”>

mboten_supe: km kalo gk di jhati bisa membahayakan

BlackBerry: jek metu maneh….

BlackBerry: wes gak di reken kok jek mecungul ae

mboten_supe: heh…dengerin eah blackberry,,

mboten_supe: yang mrthukul dul;uan tuh capa??????

BlackBerry: lho? aku kan wes ngilang…. wes gak tak bales kan??? lha lapo sak iki metenteng maneh?

mboten_supe: 4×4=16

yup bgitulah….debat agy dech!!

Alhasil yang ditunggu2 gak ada, yasud kecewa….

12/08/09

“Hambar”

Yup! Hari2 berjalan bgitu saja, ngalir kayak air….

Wz….Q nyerah,,

Q dah gak mau agy mikir yang berat2,, udah tua bukh….

Takut kapasitas otak Q mbeldhak!

“memiliki kehilangan”

Ogah ngerasa memiliki, coz takut ntar kehilangan!!!

Lahaulawalakuwwata ila billahil aliyil adzim

27/08/09

MALEZ

”TelponLah,,napa kuq gak telpon???”

Perasaan sering banget dia mnta aq nelpon dia. Ntahlah, stelah dia kluar dari pertamina karena terlibat sdikit permalahan yg cukup bikin aq kecewa, aq jadi sering banget nelpon dia. Padahal sbelumnya dia yg mesti nelfon. Bangkrut kali….

Tapi,eah…aq ngertiLah, dn aq juga ikhlas kuq nelponin dia.

But…lama2 aq jadi malez,, gemana enggak malez, lha wong dia nggak ada disini, tiap dtelfon sering banget sbuk <ntah sbuk bneran = mungkin>.

Nah…lama2 kalo kayak gini teruz, aq bisa2 gulung tikar ngebela2in orang dan hubungan yang gak jelaz kayak gini.Udah rugi waktu, rugi perasaan, tongpes pula.

Mungkin awalnya aq semangat banget ma dia, tapi…kalo teruz2an dikecewain kayak gini, iah mana ada cewek yang tahan???? Kcuali tuh cewek bego banget!

Dan aq gak bego, n gak mau jadi budak cinta…

Udah ah…bubarin aja yang kayak bginian!!!

Aq gak bisa agy L

Aq berubah kayak gini bukan karena ada cowok laen yang lebih baik, tapi, semua kekecewaan, kesepian, n kebosanan yang sering melanda bikin aku sadar n bangkit. Q gk mungkin mencintai bayangan. Dan jangan lagi…

Mendink aq sendiri, itu dah cukup bikin aq bahagia.

PROPOSAL JODOH

Agustus 09, 2009

“hallo…assalammualaikum,, antum, besok pengajiannya jam berapa? proposal saya udah siap!”

Radak gak ngerti n gak NGEH…

Proposal?

Opo iku? Gawe opo iku?

Ternyata, setelah aku Tanya lebih jauh ke temanku , dia mau ber Taqorrub dengan seorang ahwan dari “mereka”

Taqorrub adalah sejenis upaya untuk mencari pasangan hidup atau suami/istri dengan cara mengenal pribadinya serta thethek mbengeknya dahulu,,

<dilihat bebet bobot n bibitnya dulu kali yee>

WALAHHHHH….. lha iyo,, kuq athek repot2 nggawe proposal barang tho yo….

Kayak mauw nyari sponsor ajah,, atau mungkin juga dirinya dipromosi’in gitu? Biar laku? Tapi anehnya,, ini UNTUK GOLONGAN/ KALANGAN SENDIRI…orang di luar anggota atao golongan mereka dilarang ngikut,, kalo maw ikut musti masuk jadi bagian dari mereka terlebih dahulu, Harus ngisi formulir dulu, bayar uang pendafaftarn dulu,uang gedung dulu, almamater dulu, gitu kali yee…

Yup! Mungkin ni cara yang lebih halus untuk menghindari kata2 “mayukno” alias menyodorkan diri….

Wuih…serrem,, kalo kita pake acara menyodorkan diri kayak gitu,, gak malu tah?

Apakah ini merupkan ikhtiar untuk mendapatkan jodoh???

Wadohhh…jadi makin mirip biro jodoh atau kayak acara2 reality show di TV dunk. Koyoto….Take Me Out, kontak jodoh, de el el

Padahal….yang namanya jodoh itu kan udah disiapin ma Allah,, dan merupakan misteri iLLahi,, Mnurutku,, gak perlu Lah ampe bikin proposal kayak bgituan, yang terkesan formil banget, dan bikin acara yang terlalu mengada2, apalagi hanya diperuntukkan bagi KALANGAN MREKA SENDIRI. Nah loe…..Jadi makin curiga…

Kenapa media Taqorrub musti pake Proposal?

Apa emang harus gitu yach??

Dan kenapa juga hanya untuk kalangan sndiri?  Bukannya calon ato jodoh Qta di dunia ini ada diantara sgitu banyak gelintir2 orang,, lagian, kan juga ada banyak anggota2 lainnya, koyoto…anggota TNI, OSIS, BAND, REMAS, De es Be

Iya kalo jodohnya tuh ada di dalam lingkaran mereka? Kalo enggak????

Dan apakah setiap anggota harus menjadi pasangan dari orang2 dari kalangan sendiri?? < hari gini gitu , masih ngebeda2in makhluk n aliran serta status? Warna kulit, jenis pakaian, merek serta label imannya??? Oh…God,,apa yang sebenernya terjadi di dunia ini?? >

APA KATA DUNIA????!!!!

luv-yah-wallpaperHanya WAKTU iank bisa…

  Lanjut Baca »

Pengertian Politik Luar Negeri RI dapat ditemui di dalam Pasal 1 ayat 2, Undang-Undang No. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri yang menjelaskan bahwa Politik Luar Negeri Republik Indonesia adalah :

“Kebijakan, sikap, dan langkah Pemerintah Republik Indonesia yang diambil dalam melakukan hubungan dengan negara lain, organisasi internasional, dan subyek hukum internasional lainnya dalam rangka menghadapi masalah internasional guna mencapai tujuan nasional.”

Politik Luar Negeri atau Kebijakan Luar Negeri tidak terlepas dari berbagai perkembangan keadaan nasional dan internasional, bahkan Politik Luar Negeri (Polugri) merupakan cerminan dari kebijakan dalam negeri yang diambil oleh Pemerintah. Demikian pula dengan Polugri Indonesia yang tidak terlepas dari pengaruh banyak faktor, antara lain posisi geografis Indonesia yang terletak pada posisi silang antara dua benua dan dua samuera, potensi sumber daya alam serta faktor demografi atau penduduk di Indonesia, serta berbagai perkembangan yang terjadi di dunia internasional.

Diplomat 03Kebijakan luar negeri Indonesia adalah politik luar negeri bebas aktif. Artinya, Polugri yang kita anut bukan menjadikan Indonesia netral terhadap suatu permasalahan melainkan suatu Polugri yang bebas menentukan sikap dan kebijaksanaan terhadap permasalahan internasional serta tidak mengikatkan diri hanya pada satu kekuatan dunia. Aktif berarti kita ikut memberikan sumbangan, baik dalam bentuk pemikiran maupun keikutsertaan kita secara aktif dalam menyelesaikan berbagai konflik, sengketa dan permasalahan dunia lainnya, seperti yang tertera dalam Pembukaan UUD 45 yaitu agar terwujudnya ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Sebagai pelaksanaan dari kebijakan nasional, Polugri dilaksanakan melalui diplomasi oleh para diplomat, baik yang berada di berbagai Perwakilan di luar negeri maupun dalam negeri.

DIPLOMAT

diplomat adalah seseorang yang secara khusus dan resmi dikirim oleh suatu negara untuk mewakili negaranya di luar negeri untuk melakukan tugas-tugas diplomasi dan diberikan status diplomatik dalam mencapai tujuan negara. Sedangkan diplomasi dapat diartikan sebagai suatu seni, tindakan dan cara-cara dalam menjalankan politik luar negeri suatu negara yang dilaksanakan oleh para diplomat.

Kata diplomasi pertama kali dikenalkan dalam bahasa Inggris oleh seseorang bernama Edmund Burke pada tahun 1796, yang berasal dari bahasa Perancis, “diplomatie”. Namun menurut sejarah, kata diplomasi berawal dari bahasa Yunani kuno “diploma” untuk menyebut sebuah lembaran yang menandakan bahwa orang yang memegang lembaran tersebut merupakan orang yang dipercaya dalam hal tertentu.

Sehingga seorang diplomat merupakan seseorang yang diberikan kepercayaan oleh negaranya untuk mewakili negara tersebut dalam menjalankan hubungan dengan negara lain. Dalam menjalankan tugasnya, seorang diplomat akan banyak sekali bertemu dengan berbagai orang dari berbagai penjuru dunia. Tidak saja untuk mengenalkan budaya dan keadaan negaranya, namun juga melakukan berbagai tugas-tugas diplomasi, antara lain melakukan negosiasi atau ikut dalam persidangan seperti yang terjadi di badan dunia PBB.

Dengan bertemu dan bernegosiasi, para diplomat akan berusaha untuk mencapai tujuan masing-masing negaranya dengan cara damai dan sama-sama menguntungkan ke dua belah pihak. Akibatnya persahabatan akan terjalin dan menciptakan hubungan yang lebih erat antar negara untuk bekerja secara bersama-sama dalam mencapai tujuan masing-masing negara serta mewujudkan perdamaian dunia.

Dahulu kala hanya keluarga raja, kaisar atau bangsawan yang dapat menjadi diplomat untuk mewakili sang raja atau kaisar yang tengah berkuasa. Namun semenjak abad ke-20, hal tersebut tidak berlaku lagi. Kini siapa saja dapat menjadi diplomat asalkan telah memenuhi beberapa persyaratan dan melewati serangkaian tes agar dihasilkan seorang diplomat dalam dinas diplomatik yang profesional.

Di Indonesia, para diplomat dalam sebuah dinas diplomatik berada di bawah naungan Departemen Luar Negeri (Deplu) yang diberikan kewenangan oleh Pemerintah Indonesia untuk melaksanakan dan melakukan koordinasi dalam pelaksanaan hubungan luar negeri. Oleh sebab itu Deplu mempunyai kewenangan untuk menyiapkan Pejabat Dinas Luar Negeri, yaitu diplomat untuk ditugaskan di Indonesia maupun di berbagai Perwakilan Indonesia di luar negeri.

Diplomat 02Untuk itu bagi adik-adik yang bercita-cita untuk menjadi seorang diplomat karir tentu saja harus bergabung dengan Deplu terlebih dahulu guna dididik menjadi seorang diplomat karir atau dikenal dengan sebutan Pejabat Dinas Luar Negeri (PDLN). Lalu apakah sulit untuk menjadi diplomat? Sebenarnya tidak sulit asalkan kalian telah mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari agar memenuhi berbagai peryaratan dan dapat melewati serangkaian tes yang ada.

Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain adalah harus lulus dengan nilai baik dari Perguruan Tinggi dan meraih gelar di bidang Sarjana pada Fakultas-Fakultas ilmu sosial dan budaya, seperti Fakultas Hukum, Ekonomi, Politik, dan Sastra. Lalu adik-adik juga harus menguasai salah satu bahasa asing seperti bahasa Inggris, Perancis, Cina, Spanyol, Arab, Jerman, atau Rusia. Sebenarnya banyak sekali persyaratan yang harus dipenuhi dan jika kalian bercita-cita kelak, kalian dapat melihat secara lengkap di website www.deplu.go.id

DIPLOMATIC FACILITIES
 
  1. Regulations with respect to Diplomatic Privileges and Immunities
  2. Beginning and end of Diplomatic Privileges and Immunities
  3. Immunities of Diplomatic and Consular Staff
  4. Privileges of the Mission and Diplomatic and Consular Staff

 

The Indonesian Government guarantees to the Head of Mission and all diplomatic and consular staff their freedom of movement and travel throughout Indonesia. Nevertheless, they are required to secure clearance before making official visits to the provinces or entry into zones that are restricted or regulated for reasons of national security. For that purpose, the mission shall request clearance from the Directorate of Diplomatic Facilities at least 14 days before the visit.